Kamis, 05 Juli 2007

Berperilaku Menimbun Barang yang Tidak Normal

Berperilaku Menimbun Barang yang Tidak Normal

Mungkin kita pernah menemukan seseorang yang suka menimbun barang-barang yang sudah tidak berguna, atau kadang yang dapat dimasukkan dalam kategori 'sampah'. Barang tersebut tetap disimpan, dan tidak boleh dibuang oleh siapapun. Semakin hari semakin menggunung barang-barang tersebut. Apa yang menyebabkan perilaku seperti itu?

Perilaku yang suka menimbun barang secara berlebihan dan abnormal, dalam ilmu kejiwaan, dimasukkan dalam golongan kelainan Obsesif Kompulsif. Dan tidak diketahui penyebabnya secara pasti. Tapi para peneliti di universitas Iowa, menemukan bahwa perilaku ini mempunyai mekanisme khusus yang mendasarinya. Dan daerah otak yang disebut lobus frontal (sisi otak sebelah depan), kelihatannya yang mengatur perilaku ini.

Kelainan Obsesif Kompulsif adalah suatu kelainan dimana seseorang melakukan tindakan yang sama secara berulang-ulang, karena adanya perasaan takut atau ada yang sesuatu yang kurang jika tindakan tersebut tidak dilakukan kembali. Seperti misalnya, seseorang yang melakukan cuci tangan terus menerus, karena merasa tangannya belum bersih, atau orang yang memeriksa berkali-kali untuk melihat apakah masih ada barang yang tertinggal.

Dan beberapa diantaranya, ada yang secara kompulsif menimbun barang, bukan karena kegunaan barang tersebut atau kegemaran dalam mengoleksinya (misalnya pada filatelis). Contohnya, ada yang memenuhi rumahnya dengan peralatan dapur yang telah rusak atau surat-surat bekas.

Untuk membantu penelitian ini, para ahli telah mempelajari 13 orang yang mulai berperilaku menimbun barang setelah mereka mengalami cedera otak. Mereka dilakukan scanning (pemindaian) dan dibandingkan dengan hasil scanning otak dari 73 orang yang mengalami cedera otak tapi tidak mempunyai perilaku menimbun yang abnormal.

Hasilnya, pada individu yang berperilaku abnormal terlihat adanya kerusakan pada lobus frontalis otak, terutama pada bagian otak kanannya. Oleh karena itu, para ahli menduga bahwa kelainan perilaku ini berbeda dengan kelainan pada Obsesif Kompulsif lainnya. Dan pengobatan yang diberikan juga berbeda.

Dengan diketahui penyebabnya ini, maka pengobatan yang dapat diberikan lebih dapat terarah sesuai dengan penyebabnya.

Tidak ada komentar: